Jangan Menyepelekan Suara Hati
Suatu pagi, ketika sedang proses menyedot air, tiba -tiba listrik padam. Tekkk... dengan demikian mesin air pun berhenti menyedot. Karena waktunya pengisian yang belum lama, aku biarkan colokan air tetap tersambung ke listrik.
"Mungkin mati lampu ini cuma sebentar, nanti kalau tiba tiba hidup lampu langsung sambung lagi nyedotnya," pikirku. Tapi di satu sisi, hatiku berkata, "cabut saja dulu, nanti colokin lagi."
Dorongan itu muncul berkali-kali dikepalaku, tapi aku tidak menghiraukannya. Sampai akhirnya listrik hidup lagi dan memang memang benar langsung lanjut lagi nyedot airnya.
Setelah itu, aku langsung ngidupin mesin cuci. Belum beberapa menit berjalan, tiba-tiba mati lampu lagi.
"Waduh, apa lagi ini," pikirku.
Langsung buru- buru keluar, lihat kwh, ternyata hidup. Timbullah prasangka bahwa lagi turun daya. Ditunggu satu jam, 2 jam gak normal juga, akhirnya aku lanjut cuci pake tangan.
"Nanti tinggal peras dan jemur," pikirku.
Tiga jam empat jam lima jam gak normal juga. Cucian yang tadinya masih tanggung, akhirnya aku selesaikan karena merasa listrik akan turun daya dalam waktu yang lama. Aku bilas lalu jemur. Karena penasaran, aku coba bertanya sama tetangga.
"Mba, listrik lagi turun daya ya?" tanyaku.
"Gak bu. Ini normal - normal saja tuh," jawabnya.
Langsung buru buru nge cek kwh dan ternyata kwh kami yang rusak.
Setelah itu, kami langsung sibuk cari nomor telepon pihak PLN. Dari 3 orang pegawai PLN yang ada disekitar Negeri Besar, tak ada yang bisa menyelesaikan karena ada yang lagi sakit, ada yang lagi lebaran di luar kota dan harapan satu satunya adalah yang satu lagi tapi HPnya tidak aktif.
Antara iseng dan serius, ku coba terus menelpon pegawai PLN yang satu lagi sampai akhirnya nyambung setelah berpuluh puluh kali di telpon. Tetapi kembali lagi kecewa karena yang angkat adalah istrinya, karena sibapak lagi tidur siang.
"Nanti saya sampaikan,bu. Ini masih nyenyak banget tidurnya." kata istrinya. Jam sudah menunjuk ke angka tiga.
Yang di tunggu belum muncul juga, akhirnya aku putuskan untuk menelpon kembali. Singkat cerita si bapak akan segera meluncur ke rumah kami untuk memeriksa dan melakukan perbaikan.
"Iya, pak. Kami tunggu," jawabku singkat.
Baru saja diletakkan, tiba-tiba HP berbunyi lagi. Yang menelpon adalah si bapak untuk menyampaikan bahwa dia bisa datang jam 8 malam karena hari sudah mau magrib dan setelah magrib ada tahlilan.
"Oh iya, pak." jawabku singkat.
Hati rasanya jengkel, capek, mau ngapa ngapin gak bisa karena gelap. Dalam hati aku berpikir, jangan-jangan hal ini tidak akan terjadi seandainya aku cabut colokan air pas mati lampu tadi pagi.
Sesuai dengan janjinya si bapak muncul di rumah kami sekitar jam 8. Setelah di cek dan di perbaiki akhirnya lampu bisa hidup kembali.
"Kenapa bisa terjadi seperti ini pak?" tanyaku.
"Karena terlalu banyak alat elektronik yang hidup pada hal muatan listrik belum terisi di kwh karena listrik baru mengalami pemadaman," jawab si bapak.
"Kita harus menunggu beberapa saat terlebih dahulu baru bisa menggunakan alat alat elektronik," lanjut si bapak.
Langsung aku ingat dorongan yang muncul dipikiranku beberapa saat setelah mati lampu tadi pagi. "Seandainya aku mengikuti kata hatiku, pekerjaanku akan lekas selesai. Aku tidak akan merasa jengkel dan marah karena sempat gelap-gelapan tadi, dan satu lagi, aku tidak perlu mengeluarkan sejumlah uang," kataku dalam hati. Tetapi walaupun demikian, hal ini memberikan pelajaran berharga bagiku.
Komentar
Posting Komentar