"Aku kak," jawabmu.
"Boleh ga aku ikut kamu? Aku juga melamar disana. Aku dapat lokasi ujian di Baradatu. Aku gak tau sama sekali tentang daerah Way Kanan"
"Boleh kak."
Kamu selalu memanaggil aku kakak karena memang aku lebih tua setahun dari kamu.
Singkat cerita, kita sepakat untuk berangkat bareng. Kamu bilang kita akan menginap di rumah tulangmu di Negara Ratu. Kita janjian ketemu di Bundaran Raja Basa jam 9 pagi.
Tak semudah yang dibayangkan. Perjalanan kita terkendala seketika karena surat keterangan domisiliku yang masih sedang proses di kelurahan. Kami sudah berangkat sepagi mungkin ke kelurahan tapi seperti biasa prosesnya panjang kali lebar kali tinggi.
"Kakak dimana sekarang? Aku sudah di Bundaran," katamu lewat telpon genggam.
"Bentar ya, aku masih ngurus surat keterangan domisili di kelurahan karena KTPku sudah habis masa berlakunya," jawabku sedikit memohon.
"Iya kak," jawabmu.
Sampai jam 2 siang tak kunjung juga keluar surat keterangan.
"Kakak dimana? Jadi mau ikut aku gak?
"Jadi, Sondang."
"Kok lama banget? Bis kesana sudah mau habis. Aku duluanlah ya kak."
Sambil nangis aku jawab dia, "Jangan, Sondang. Aku gak tau sama sekali tempat itu. Tolong ya. Jangan tinggalin aku ya." Kak Purba, kakak ketemu di rantau, yang sudah ku anggap kakakku sendiri juga ikut meminta tolong ke kamu, dan saat itu kamu mengiyakannya.
Setelah menunggu hampir seharian, keluar juga surat yang ku butuhkan. Bang Ellin bawa motor entah denagn kecepatan berapa saya gak tau, yang ku ingat sangat ngebut.
"Aku sudah jalan ke Bundaran ya," kataku masih lewat telpon.
Tiba di Bundaran, Kamu sudah berada di bis yang akan membawa kita ke rumah tulangmu. Buru-buru aku masuk. Kamu duduk membelakangi aku sambil memandan keluar jendela. Aku sangat bisa membayangkan bagaimana perasaanmu saat itu. Jengkel, marah, lapar, capek campur aduk jadi satu.
"Maafin aku ya Sondang. Jangan marah ya," Kataku sambil menepuk pundakmu setelah beberapa menit ku saling diam.
"Iya kak,"jawabmu dengan senyum sembari memutar badanmu supaya tidak membelakangi aku lagi.
Akhirnya suasana menjadi cair kembali. Kita membicarakan banyak hal sampi akhirnya kita tiba di rumah tulangmu, di Negara Ratu dan hari sudah hampir malam kita sampai.
Jam 4 pagi kita berangkat dari rumah tulang diantar sama tulang sendiri dan tiba di lokasi ujian jam 7. Tempat duduk kita cukup jauh dan memang tidak ada kesempatan bagi kita untuk berbicara lagi setelah mulai waktu ujian. Waktu itu kamu meninggalkan ruanga ujian lebih dulu dari aku karean kamu bilang kamu sudah mumet sementara aku mengerjakan soal sampai waktu benar-benar habis.
Habis tes, kita ketemuan dengan temanmu dan kita makan siang bareng. Aku langsung pulang ke karang waktu itu sementara kamu masih sama temanmu.
"Selamat ya kak. Kakak lulus. Aku gak lulus." katamu waktu itu melalui pesan singkat pada saat pengumuman kelulusan.
Setelah itu kita lost contact. Gak ada kabar satu sama lain. Kita akan bertemu kalau kebetulan ketemu di gereja. Aku hanya pernah menemui kamu di rumah inang, orangtuamu pada saat kelahiran anak pertamamu.
Hari Senin, 14 Juni 2021, adalah hari yang sangat memilukan bagi suamimu, kedua anakmu, kedua orang tuamu, adik-adikmu, dan kami teman-temanmu. Siang itu, sehabis rapat kenaikan kelas, aku membuka sosmed. Aku melihan potomu terpampang, dengan senyummu yang khas, tapi dengan caption yang menyakitkan. "Selamat jalan, Tuhan lebih sayang sama kamu," kira kira begitulah captionnya.
Aku langsung telpon si pembagi berita untuk memastikan kebenaran dari berita tersebut. Ternyata benar. Air mata gak bisa dicegah. Kaget, sedih membayangkan kepergianmu, Sondang. Otakku langsung mengingat kembali kenangan kita 11 tahun yang lalu.
SELAMAT JALAN TEMAN. TENANGLAH DI ALAM SANA. KIRANNYA SUAMIMU, KEDUA ANAKMU, KEDUA ORANGTUAMU DAN ADIK-ADIKMU TABAH MENGHADAPI DUKA CITA INI.
Negeri Besar, 16 Juni 2021
Nuri

Komentar
Posting Komentar